El Tari – Ingatan tentang NTT

Nama El Tari begitu familiar selama menjelajah pulau Timor di rentang April-Juli 2010, dan perasaan familiar itu berulang kembali pada kali kedua menginjak kaki di propinsi NTT. Sejak menginjakkan kaki di Bandara Udara Kota Kupang, nama bandara tersebut adalah El Tari. Setelah itu, kita akan melintas jalan utama yang membelah kota kupang dari arah bandara ke tengah kota. Jalan dimana di kanan kirinya kantor-kantor pemerintahan dan ditengahnya dibelah pepohonan yang mongering di musim kemarau, jalan tersebut juga disebut jalan El Tari. Di sepanjang jalan tersebut bisa ditemukan mulai terminal bus dari arah soe dan atambua dan  angkutan umum.  Taman nostalgia dan sebuah museum juga terletak di jalan El Tari  Kupang.

Selanjutnya, El Tari juga ditemukan ketika memasuki perkantoran di lingkungan kabupaten Atambua, Kabupaten TTU yaitu kefamenanu dan kabupaten TTS yaitu Soe. Bahkan kalau tidak salah sewaktu ke Rote Ndao, komplek Bappeda juga terletak di Jalan El Tari.

Nah, siapakah El Tari? Ternyata beliau adalah salah satu tokoh nasional, seorang Gubernur Nusa Tenggara Timur pada periode 1966-1978.

Belum banyak referensi yang bisa dikumpulkan tentang sosok beliau, namun namanya mungkin merupakan jejak ingatan bagi saya dalam kali kedua tinggal di NTT.

NTT at the second moment

Kedua kalinya datang ke propinsi Nusa Tenggara Timur untuk berkarya lagi. Rasanya harapan-harapan hidup bertumbuh lagi, menggeliat, meliar dan menggugah. Sejumput pengalaman setahun sebelumnya merekam peristiwa dan perjalanan di pulau Timor dan Rote, menjelajah hutan jati, padang ilalalang, melintas sungai berbatu, perpayung langit yang indah serta berkendaraan berat antar desa dan pulau membawa kesan mendalam. Sepenggal mimpi, sepenggal harap, ribuan doa dan pengharapan untuk datang lagi pulau yang membawa pembelajaran berharga.

Kupang, kota pantai nan panas terik, tapi eksotis. Sejumput kegugupan menyertai ketika menginjak kaki di kota yang bertumbuh. Segenggam harapan dipupuk untuk hidup baru, semangat baru dan keceriaan baru. Kepercayaan diri bertumbuh lagi bahwa hidup ini sumbunya belum mati. Percaya masih ada ruang berkarya, percaya ada kebahagiaan baru, percaya dan percaya segala kebaikan hidup dan perlindunganNya.

Dibawah Jembatan Sudirman

Suatu siang diakhir bulan maret 31/3/2011 mendapatkan kesempatan berharga didampingi seorang warga, saya mengunjungi kawasan Code dibawah jembatan Sudirman.  Jembatan Sudirman sungguh mengesankan kalau dilihat dari bawah. Kokoh, tua, berlumut, dingin dan seolah menandai suatu peradaban kehidupan suatu kota. Diantara ruang angin yang luas dibawah jembatan saya menemukan seorang ibu dan anak perempuannya duduk dihamparan pasir yang terbentuk karena banjir lahar dingin beberapa waktu lalu.

Mungkin salah satu banjir lahar dingin tersebut yang terjadi pada tanggal 19 Maret 2011.  Ibu sedang ‘mendulang’ dalam bahasa jawanya yang berarti memberi makan anak sambil berangin-angin dan bermain pasir. Walaupun situasinya sedikit bau dalam artian sebenarnya karena aliran airnya bercampur-campur dengan segala macam limbah, ibu dan anak ini tetap asyik disana. Si anak sungguh beruntung mendapatkan kemewahan bermain pasir diusia ini. Sebuah kemewahan karena ada anak yang lain terpaksa bermain pasir dengan membelinya lebih dahulu.

Pare Kediri : Bersepeda dan Bisnis Sepeda

Moda transportasi sepeda salah satu jenis usaha yang terlihat di Pare.  Sepeda adalah transportasi vital untuk bermobilisasi dalam kegiatan belajar, kegiatan bersosialisasi dan kegiatan mencari kebutuhan hidup yaitu makan. Letak geografis kecamatan Pare yang datar sangat nyaman untuk bersepeda dan tidak membuat kita terlalu ngos-ngosan. Selain itu, tradisi bersepeda telah ada sejak dahulu sebelum kawasan ini dibanjiri motor dan mobil seperti 2 tahun belakangan ini. Sudah menjadi kebiasaan, anak-anak sejak kecil di persenjatai sepeda untuk bepergian. Jadi tidak hanya di Desa Tulungrejo saja warga bersepeda, tapi mungkin seluruh Pare atau seluruh Kediri telah memiliki budaya bersepeda.

Rata-rata persewaan sepeda sekitar Rp 50.000,00 namun ada juga yang Rp 75.000,00 dan Rp 70.000,00 tergantung baru dan tidaknya sepeda tersebut. Untuk menyewa sepeda selain membayar uang sewa kita juga harus memberikan jaminan kartu identitas seperti KTP atau SIM.  Ukuran sepeda juga bervariasi karena para pemilik persewaan sepertinya menyediakan berbagai jenis ukuran dan jenis sepeda sesuai minat penyewa dari tahun ke tahun. Persewaaan sepeda juga berlaku di kos-kosan yang memberikan syarat bahwa warga kosan tersebut harus menyewa sepeda di tempat kos. Persewaan seperti ini tidak banyak. Yang lazim, di sepanjang jalan Brawijaya dan gang-gang di dalamnya biasanya menjajakan sepeda dalam berbagai kondisi dan harga. Penyewa bisa bebas memilih.

Kondisi sepeda yang disewakan berbagai macam dari yang masih mulus alias baru sampai dengan yang cukup tua. Sepeda tua pun jangan diragukan kemampuannya untuk bekerja karena banyak bengkel sepeda di sini yang setia mendandani dan menservisnya. Bahkan dipersewaan sepeda biasanya juga menyediakan jasa servis. Demikian juga bila ban bocor, tidak susah untuk menambalkannya.

Kali pertama saya hendak memilih sepeda di penyewaan, saya agak keder dengan usia sepeda yang kelihatannya sudah tua. Ini terlihat dari warna sepeda yang kusam dan setengah karatan. Ini persoalan persepsi penyewa, lalu saya juga keder dengan kemampuan saya bersepeda itu sendiri. Seingat saya, terakhir saya bersepeda adalah waktu kuliah di Bandung yang berakhir dengan saya menabrak becak. Kejadian itu kira-kira 19 tahun yang lalu. Alhasil, saya menurunkan standar kemampuan saya pada tahap paling minim yaitu tidak bisa bersepeda. Hal lain yang membuat saya keder adalah jalan Brawijaya desa Tulungrejo adalah jalanan yang  ramai. Bus patas,  truk besar kecil, truk tronton, sepeda motor, mobil biasa melaju dengan cepat dijalanan tersebut. Pak Mul, tempat saya menyewa sepeda menyuruh saya mencobanya dulu. Demikian juga suami saya. Begitu saya coba, ternyata wussssss….!!! saya langsung melaju dengan sedikit menggak menggok pada awalnya. Setelah beberapa kali bolak balik mencoba, pak Mul mengatakan bahwa saya sebenarnya sudah bisa naik sepeda, sebaiknya memilih sepeda ukuran biasa saja, hanya sadel duduk disesuaikan kebutuhan saya.

Setelah mencoba beberapa sepeda dan memilih satu dengan mengepaskannya, mulailah petualangan saya hari itu dengan suami mencari kosan dan tempat belajar. Selama menggunakan sepeda tersebut, kebiasaan saya untuk mengerem dengan kaki tidak pernah hilang, kegugupan saya bila bertemu atau papasan dengan manusia, belokan dan kendaraan lain juga mengganggu pada awalnya. Untung saya ditemani suami untuk bersepeda. Alhasil teriakannya dan kemauannya yang kuat untuk memaksa saya bersepeda dengan benar selama seharian membawa hasil. Sejak pagi hingga sore saya bersepeda membuat saya tahu mengendalikan sepeda dan mengurai kegugupan di jalanan. Meski sampai sekarang, bila ingin menyeberang ke kiri atau ke kanan saya selalu berhenti dan menuntun sepeda, namun itu semua terasa wajar dan tidak mengganggu. Belajar mengendarai sepeda di Pare dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi terasa romantis buat saya.

Lanskap geografis yang datar meski ada turunan dan tanjakan tidak terlalu ekstrim membuat kegiatan bersepeda sangat menyenangkan. Pertama kalinya sejak saya meninggalkan Jakarta 6 tahun yang lalu perasaan saya kembali enjoy karena bisa bermobilisasi kemana-mana sendiri. Sepeda menghilangkan gap ketakutan akan kecepatan yang selama ini menghantui saya bila ingin bersepeda di Jogjakarta dan Magelang.  Mungkin setelah ini sekembali ke Jogjakarta, saya akan membawa kembali sepeda saya di rumah untuk saya bawa ke jogjakarta, atau saya akan membeli yang baru untuk kebutuhan saya di sana nanti.

Budaya bersepeda di Pare dan di daerah agraris telah ada sejak jaman dulu. Lahan-lahan pertanian yang luas dan kebutuhan  membawa rumput untuk ternak menjadikan sepeda sebagai salah satu aset keluarga petani sejak dulu. Disini kita masih bisa menyaksikan sepeda-sepeda model lama dan gagak namun masih digunakan setiap saat. Namun sayang sekali, seiring perkembangan jaman, dimana kredit motor dan mobil begitu mudah dan murah, kegiatan bersepeda mulai berkurang. Hanya bapak dan ibu tua, perempuan muda dan anak sekolah yang menggunakan sepeda di Pare. Para laki-laki muda dan manusia produktif lebih senang bermotor roda dua kemana-mana. Keasyikan yang diserap pada pendatang yang ingin belajar bahasa di Pare untuk bersepeda berkurang. Irama kehidupan menjadi riuh dengan suasana kendaraan akan menyebabkan  frekuensi otak kita naik pada sisi alfa. Kita selalu berada pada keadaan waspada, bergairah, panik, cemas dill.  Hilang sudah frekuensi beta yang nyaman yang selama ini menentramkan orang tinggal di Pare. Tuntutan jaman menyebabkan kedamaian kehidupan agraris menghilang secara perlahan dan kita akan merindukannya lewat film-film dan episode masa lalu.

Sepeda oh sepeda….jangan engkau hilang dalam peradaban jaman…

 

Pare Kediri : High Cost Kosan

“Kampung Bahasa “ Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri  merupakan daya tarik kota kecamatan Pare. Puluhan tempat kursus bahasa Inggris telah menghidupkan perekonomian masyarakat di desa ini seperti usaha makanan/minuman, usaha warung kelontong perlengkapan hidup sehari-hari, usaha warnet, toko alat tulis/komputer, usaha penyewaaan sepeda, usaha info kos-kosan, usaha jual pulsa, usaha bengkel perbaikan sepeda, dan usaha penyewaan kamar kosan itu sendiri. Kafe pun juga ada di Kampung Bahasa ini. Dari semua bentuk usaha tersebut yang menjadi keunikan adalah usaha penyewaan sepeda dan usaha persewaan kamar kost. Kampung bahasa tidak akan lepas dari kedua usaha ini karena seluruh peserta kursus membutuhkan tempat tinggal dan alat transportasi murah yang bisa membawanya bermobilisasi dari satu tempat kursus ke tempat kursus lain.

High cost kosan adalah ungkapan saya menilik harga sewa kamar di desa Tulungrejo. Ini  karena cara memberikan nominalisasi kepada penyewanya yang tidak terstandarisasi dan berkesan tidak adil alias sangat mencari keuntungan atau aji mumpung. Hampir semua atau katakanlah semua kos-kosan di huni lebih dari satu orang, yaitu berkisar 2 orang perkamar sampai 6 orang perkamar. Namun rata-rata adalah 3- 4 orang per kamar. Harga sewa kamar dihitung per orang. Misalnya satu orang membayar Rp 75.000 – Rp 200.000 untuk tinggal selama satu bulan, apabila kamar tersebut untuk 2 orang orang maka tinggal dikalikan nominalisasi harga per orangnya. Jadi kisaran satu kamar harganya adalah Rp 300.000 – Rp 800.000. apabila ingin menghuni sendirian, tentunya harganya akan menjadi sangat mahal. Untuk kamar seharga Rp 150.000 – Rp 200.000 per orang biasanya dihuni 2- 4 orang. Apabila penyewa membawa komputer/laptop juga dikenakan tambahan harga sekitar Rp. 15.000 – Rp. 30.0000. Selain persoalan harga per orang, sisi high cost juga dikenakan pada durasi waktu. Bagi penyewa 2 minggu, biaya sewa kos ada yang dihitung sebulan namun ada juga yang diberikan pengurangan harga sekitar 40%.

Sebagai narasi, saat ini saya tinggal di kosan di Jalan Kemuning, dengan kamar seharga Rp 200.000 dengan biaya tambahan laptop sebesar Rp 25.000 untuk tinggal sebulan. Saya tinggal sekamar dengan 1 orang lainnya. Sungguh suatu kebetulan saja kami tinggal berdua di kamar tersebut karena kondisi tubuh kami yang big size untuk dijejali 3 orang seperti kamar lain. Jadilah pemilik kamar mengantongi Rp  450.000 untuk kamar kami selama sebulan. Tempat kosan saya terdiri dari 5 kamar, dimana 2 kamar bisa dihuni 3-4 kamar, 2 kamar untuk dihuni satu orang dan 1 kamar untuk 2 orang. Total penghuni kamar bisa terisi penuh adalah 15 orang. Untuk 5 kamar berkapasitas 15 orang, hanya disediakan satu kamar mandi. Fasilitas kos yang saya sewa kamarnya berventilasi sangat baik ada 4 jendela dari 2 sisi (barat dan timur), lantai keramik, tempat tidur spring bed dan bukan kasus spon atau kasur kapuk, sprei pengganti, tempat cuci baju, gudang kecil untuk menaruh koper, dapur dengan kompor gas ( gasnya urunan dengan warga kos lain bila habis), perlengkapan makan dan perlengkapan mencuci. Menilik fasilitas seperti ini, maka harga Rp 200.000,00 menjadi sangat wajar pada pertama kali kita datang menengok tempat ini dan meninggalinya sebelum kenyataan lain yang menggangu datang belakangan.

Di kosan kami, rasa ketidaksenangan atau ketidaknyamanan atau perasaan tidak adil akan muncul saat-saat :

  • pemilik mulai membatasi pemakaian air dengan berbagai alasan,
  • penyewa disuruh pindah ke kamar lain (ini biasanya memaksa) karena kamarnya akan dihuni penghuni baru,
  • barang-barang penyewa dipindah ke kamar lain tanpa meminta ijin karena penyewa sedang tidak di kosan misalnya sedang pulang mudik,
  • harga penyewa dengan membawa laptop dan tidak kadang tidak berbeda,
  • harga penyewa 2 mingguan kadang dikenakan  satu bulan di penyewa satu dan 2 minggu untuk penyewa lainnya.

Sebagai penyewa kadang posisi tawar menjadi rendah, karena alternatif tempat kosan yang memadai sangat terbatas. Sebagai pembanding, dengan harga yang kurang lebih berkisar 125.000 – 175.000 per orang, ada satu kosan di jalan Anggrek, untuk bangunan yang masih baru dan terlihat nyaman diluar, ternyata didalamnya kamar-kamar tersebut berkesan suram dengan kamar mandi masih bersifat emergency alias pembatas kamar mandi menggunakan terpal plastik. Melihat kamar mandinya mengingatkan saya pada bangunan WC dan kamar mandi emergency untuk pengungsi di Merapi dan gempa bumi Jogjakarta. Satu kosan yang baik ada  di jalan Brawijaya dengan kamar seharga Rp 150.000 per orang di huni 2 orang per kamarnya. Bangunan kosan permanen dan disediakan fasilitas seperti kosan saya tadi yang membedakan untuk 7 kamar berkapasitas 14 orang disediakan 3 kamar mandi.

Alternatif tinggal di Desa Tulungrejo, Kampung Bahasa ini, selain kamar kosan adalah tinggal di Camp yang di kelola kursus. Rata-rata harga berkisar Rp 150.000  – Rp 350.000 sebulan. Biaya ini selain biaya tinggal namun juga disertai biaya program. Satu kamar akan dihuni antara 4 – 8 orang. Apabila tinggal di camp, ada satu keuntungan yaitu kemampuan komunikasi berbahasa Inggris akan meningkat karena salah syarat tinggal di camp adalah kewajiban berkomunikasi dalam bahasa Inggris dalam semua kesempatan.

Bagi pasangan suami istri, akan sedikit kesulitan mencari sewa kamar untuk pasutri karena mungkin kebutuhan sewa kamar untuk pasangan memang jarang muncul. Satu pengalaman pribadi ketika mencari kosan untuk pasutri sungguh tidak mudah. Apabila ada sebenarnya kamar atau paviliun tersebut untuk anak laki-laki. Fasilitas yang ditawarkan juga cukup minim dimana kamar mandi diluar dan air dipompa menggunakan tangan. Fasilitas listrik juga tersedia pada jam 17.00 sampai dengan jam 6 pagi saja. Pada pagi dan jelang sore, listrik dimatikan karena digunakan untuk kepentingan industri rumah tangga.

Nah, begitulah salah satu kenyataan gambaran tinggal di desa Tulungrejo Kampung Bahasa, Pare Kediri. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan, hanya sebagai alert supaya tidak terkaget-kaget ketika datang ke Kampung Bahasa seperti saya. Artinya ketika datang ke tempat ini untuk belajar bahasa ada hal-hal harus diantisipasi. Pada dasarnya segala kondisi yang saya ceritakan tersebut bisa menjadi pembelajaran atau katakanlah sebagai informasi tambahan tentang Kampung Bahasa ini. Saya mendeskripsikan pengalaman ini karena kebutuhan untuk datang ke Pare Kediri saat ini makin luas seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Sehingga keragamanan peserta kursus yang berasal dari berbagai kalangan menyebabkan munculnya pergeseran kebutuhan dan nilai dalam memandang persoalan tempat tinggal. Satu sisi kebiasaan tinggal komunal adalah kebiasaan dikalangan pesantren yang masih menjadi budaya di Kampung Bahasa ini sehingga bagi peserta kursus yang tidak siap dengan kebiasaan ini biasanya memilih tinggal di kosan yang sayangnya dalam beberapa hal masih menganut value tinggal komunal namun harganyanya yang sungguh selangit.

Jadi setelah membaca ini, jangan jera datang ke Pare ya!

 

Pare Kediri : Perjalanan dan Transportasi

 

Perjalanan menuju Pare Kediri dapat dilalui dari berbagai rute darat seperti menggunakan bus sambung menyambung, layanan colt travel atau kereta api. Kali ini pengalaman yang ingin saya bagi adalah perjalanan siang hari menggunakan bus. Pilihan bepergian menggunakan bus pada siang hari adalah salah satu pengalaman melintasi kota-kota saat terang matahari dimana mata dimanjakan dengan pemandangan berhektar-hektar sawah yang sesekali dihiasi pepohonan diantara hektaran sawah itu. Ini adalah pemandangan romantis, khas pulau Jawa bagian tengah dan timur. Lebih-lebih di Jawa Timur, dimana penghidupan agraris masih menjadi salah satu andalan utama dan hektaran sawah masih ditanami padi pada musimnya. Perjalanan kali ini tepat musim tanam padi, hamparan padi begitu hijau dan subur, melempar fantasi tentang Indonesia yang mampu berswasembada beras. Sesekali hamparan tersebut diseling tanaman padi, tebu, atau cabe. Kita masih menikmati pemandangan bapak, ibu petani mengerjakan lahannya di sawah. Hujan yang turun atau matahari yang bersinar terang adalah nuansa yang memperindah makna romantisme agrarisnya kota-kota di sepanjang perjalanan.  Lintasan perjalanan dengan hamparan padi tadi akan berbaur dengan pemandangan hutan jati milik pemerintah, perlintasan kereta api, jalan yang relatif beraspal mulus dan kota-kota yang relatif bersih [tidak sekumuh kawasan pantura jawa tengah dan pantura jawa barat].

 

Bagaimana perjalanan ini dilalui? Beginilah rutenya.

 

Terminal Giwangan Yogyakarta jam 10.00 tepat akan berangkat bus patas Eka Yogyakarta – Surabaya. Apabila ingin pilihan bus ekonomi AC juga ada atau bus ekonomi non AC.  Saya fanatik dengan kenyamanan, jadi pilihan saya adalah bus patas Eka. Sebelum naik, saya bilang saya akan ke Pare Kediri. Kondektur akan mengatakan ya mbak, anda turun di Jombang nanti. Sepertinya kondektur bus Eka atau bus-bus  Surabaya tahu tentang kota Pare Kediri ini. Jadi, yakin saja anda naik dengan bus ini. Tarif perjalanan sampai terminal Jombang adalah Rp. 53.000. Tarif ini termasuk makan siang di Rumah Makan Duta di Ngawi.

 

Apabila tepat pada jam tersebut bus berangkat, maka bus akan sampai di kota solo pada jam 12.00 an [kadang lewat sedikit tergantung kepadatan lalu lintas Yogyakarta – Solo]. Bus akan masuk Terminal Tirtonadi Solo untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Perhentian ini tidak lama, kurang dari 15 menit malah dan jangan kaget bila kita diserbu penjual salak, penjual tahu dan arem-arem, penjual ampyang kacang, penjual buku, dll. Anda bisa menolak bila tidak menginginkannya atau membelinya. Yang penting tetap waspada dengan barang milik sendiri karena suasana sedikit gaduh. Bus akan kembali berangkat dalam waktu kurang dari 15 menit tadi. Pada pertama kali saya berangkat, saya kurang beruntung karena di terminal Tirtonadi, naiklah serombongan jemaah haji dari Madura yang pulangnnya lewat embarkasi solo. Entah kenapa mereka kemudian naik bus Eka ini, namun kondisi menjadi tidak nyaman karena mereka dalam keadaan tidak sehat dimana hampir semuanya sakit flu dan meludah dalam bus. Glek! Tenggorakan saya langsung terasa sakit, juga leher saya. Entah sugesti atau entah virus tidak lama bekerja di tubuh saya.

 

Singkat cerita, pada jam 15.00 kita akan sampai dirumah makan Duta di Ngawi. Kondektur akan memberi tahu bahwa penumpang akan berhenti istirahat makan selama 20 menit. Seluruh penumpang diminta turun dan bus akan dikunci. Pilihan makanan cukup bervariasi bila melihat menu di kupon makan contohnya soto ayam, rawon, ayam goreng, opor ayam, pecel, bakso. Apabila tidak suka dengan menu tersebut, maka ada pilihan makanan fast food meski penumpang harus mengeluarkan kocek ekstra. Perjalanan akan dilanjutkan setelah 20 menit istirahat tersebut. Jelang pukul 18.00 bus akan sampai di terminal kota Jombang. Kita akan diturunkan di luar terminal dan jangan panik bila dikerubuti ojek dan becak. Sebaiknya penumpang ke Pare masuk keterminal untuk menunggu bus Harapan Jaya atau Pangeran yang  menuju ke Pare. Sebenarnya ini bus tujuan Trenggalek kalau tidak salah. Berdoalah tidak hujan ketika jelang jam 18.00 di terminal Jombang, karena bila hujan, kadang bus pada jam tersebut tidak akan masuk ke terminal. Penumpang yang diluar terminal Jombang seringkali diberi saran menunggu saja di luar oleh ojek dan becak, dan kadang ketika bus melintas bus menuju Pare, mereka mengatakan bus tersebut menuju Surabaya. Selanjutnya mereka akan menawarkan kepada kita untuk mengantar ke berhentian luar bus / halte untuk menunggu bus ke Pare yang tidak lagi masuk terminal.

 

Idealnya, supaya nyaman, sebaiknya penumpang sampai di Jombang sekitar jam 17.00 dimana pilihan bus ekonomi ke Pare datang dengan frekuensi yang cukup sering. Apabila sudah jam 18.00 bus tujuan Pare memilih tidak  masuk terminal dan penumpang mesti menunggu di luar terminal disalah satu pintu masuk dan keluar terminal. Tarif becak motor dari terminal Jombang ke Halter tersebut sekitar Rp. 7000 dan itu jarak yang sangat dekat. Bus menuju Pare terakhir adalah jam 20.00. Tarif bus ekonomi Pare – Jombang adalah Rp. 5000,00 sedangkan bus Patas adalah Rp 15.000,00. Pada kali pertama ke Pare, kami naik bus ekonomi dan per orang membayar Rp. 20.000,00!!!. Kepada kondektur bus Jombang – Pare sampaikan saja kita turun Tulungrejo – Kampung Bahasa. Jarak Jombang – Pare adalah 35 Km dengan lama perjalanan 40 menit. Sampai di perempatan Tulungrejo, naiklah becak ke tempat tujuan. Rata-rata tarif berkisar Rp. 5000 –Rp 15.000. Kadang para tukang becak mengatakan “terserah saja” dan itu berarti kita harus memperkirakan harga yang akan kita bayar.

 

Sedikit tambahan informasi tentang penginapan : apabila datang ke Pare tanpa referensi tempat tinggal dan datang larut, makan ada beberapa hotel yang bisa diinapi dekat desa Tulungrejo. Misalnya Hotel Surya atau Hotel Kediri 1. Rata-rata penarik becak akan  mengarahkan ke hotel Surya dengan tarif Rp 20.000 dari perempatan tulungrejo ke hotel tersebut. Begitu melihat fasilitas hotel, kami sedikit keder karena dari luar hotel tersebut terkesan cukup mewah, setidaknya seperti hotel di jalan Dagen Yogyakarta. Benar saja, tarif kelas standar AC di Hotel Surya adalah Rp 200.000 sedangkan tarif termahal adalah Rp 450.000. Untuk tarif kelas ekonomi terbagi 2 yaitu dengan tarif Rp 130.000 dan Rp. 80.000. Tarif kelas ekonomi tidak mendapatkan kupon sarapan. Restoran hotel ini cukup lumayan dalam sajian makanan dan minuman. Enak dan harganya masih terjangkau [ yang ini maknanya relatif]. Untuk tarif hotel Kediri, sayang sekali saya tidak memiliki referensi. Yang jelas, hotel tersebut kelasnya adalah kelas melati meski satu payung dengan  hotel Surya.

 

Singkat cerita inilah fakta perjalanan ke Yogyakarta Pare

  • Tarif patas AC ke Jombang  Rp 53.000,00 (termasuk makan)
  • Lama Perjalanan 6-8 jam [normalnya 7 jam]
  • Tarif patas AC Jombang Pare Rp. 15.000,00
  • Tarif bus ekonomi Jombang Pare Rp. 5.000,00
  • Tarif becak Tulungrejo – Hotel Surya Rp 20.000,00
  • Tarif becak termurah Rp 5.000
  • Kota-kota yang dilintasi dari Yogyakarta-Pare : Klaten, Delanggu, Sukoharjo, Kartasura, Solo, Sragen, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Jombang.

 

 

Pare Kediri : Perjalanan Akhir Tahun dan Personal Development 2010

Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sudah menjadi kebutuhan baku dalam berbagai aspek pendidikan formal informal, pekerjaan profesional sektor formal dan informal, pergaulan dalam berbagai sisi budaya. Bahasa Inggris sebagai bahasa asing tidak dinafikan lagi menjadi syarat dalam berkomunikasi baik secara verbal (lisan) dan non verbal (tulisan). Kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan, pekerjaan dan pergaulan menjadikanku mengambil langkah pasti untuk belajar pada ahlinya. Pilihan belajar bahasa Inggris jatuh ke Kampung Bahasa Tulungrejo di Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Tidak memilih kursus bahasa Inggris di Jogjakarta atau Magelang, dua kota dimana aku tinggal, karena aku mendengar dan membaca informasi tentang Kampung Bahasa Pare – demikian biasa berbagai kalangan menyebutkannya- bahwa di Pare orang memiliki banyak pilihan belajar dan cerita sukses berbahasa Inggris. Kata Kampung juga menjadi daya tarik sendiri karena dari berbagai informasi di internet, kubayangkan suasana kampung – desa- dalam struktur geografis dan sosial Pare itu sendiri.  Kenikmatan tinggal di tempat yang ndeso adalah bayangan wilayah dengan kesunyian menentramkan dimana makan masih murah, tinggal masih murah dan belajara juga masih murah. Daya tarik lainnya adalah di Pare kita bisa bersepeda ria – salah satu kegiatan yang ingin aku lakukan sejak lama namun tidak kunjung kulakukan karena ketakutanku pada kecepatan irama lalu lintas jalanan di Yogyakarta dan Magelang.

Singkat cerita, setelah membuka internet dan mendapat informasi tempat les dari kawan yang sudah pernah berkomunikasi dengan kursus Pare atau sudah belajar di Pare, berangkatlah suatu hari di tanggal 9 Desember 2010 ke Pare Kediri. Kukantongi rute perjalanan dari Jogjakarta ke Pare dan nama kursus yang akan kutuju dari kawan dan dari internet. Perjalanan dilakukan dengan kendaraan umum alias public transportation paling nyaman menurut versiku. Tidak travel karena kuanggap kurang bernuasa traveller ataupun kereta yang kugamangi karena kurangnya referensi dengan kereta jogjakarta ke kediri. Aku berangkat bersama suamiku  yang sama bersemangatnya untuk berangkat ke Pare sesuai imaginasi ruang tentang Pare dan ambisi personal development nya sendiri. Alasan yang lebih romantis, inilah perjalanan akhir tahun kami, berjalanan bersama untuk pertama kalinya sejak kami menikah setahun lalu. Jadi lah kami berangkat dengan ringan, senang dan berniat menikmati perjalanan sambil melakukan kegiatan positif bersama. Dengan tabungan yang kami rasa cukup, kami berambisi setidaknya akan melewatkan 1 bulan di Pare.

Waktu keberangkatan  sudah cukup siang, maka aku sudah memperkirakan kami akan sampai di Jombang atau Kediri cukup sore, kemungkinan besar harus menginap dulu di penginapan dan akan melanjutkan perjalanan ke Pare esok harinya.  Perkiraan tersebut tidak meleset, sedikit meleset dalam arti positif, hari itu kami sampai di Pare sekaligus dalam satu hari perjalanan. Waktu sudah larut sehingga kami menginap di hotel. Ada kelegaan tersendiri karena sudah sampai di Pare, tempat yang ternyata tapi bukan kampung tapi kota kecil yang lebih besar dari Magelang. Itu kesan kami begitu sampai malam tersebut. Surprise dan terbengong kami jadinya. Sulit memberikan pembanding seperti apa kota Magelang dan seperti apa kota Pare. Agak tidak adil membandingkan seperti itu, namun itulah kesan yang kami tangkap malam tersebut. Setidaknya sebuah kesan bisa saja berubah ketika waktu berjalan dan kesan baru terbentuk dengan fakta baru.

Kesan dan fakta tentang Pare Kediri dalam ruang lingkup belajar bahasa Inggris ini layaknya sebuah Pecel Pincuk Tumpang, makanan khas orang Kediri. Banyak sekali kenyataan tentang ruang Pare dan kesan yang bisa diungkapkan. Kejutan berupa kegembiraan dan kegeraman, begitulah rasanya. Narasi perjalanan akhir tahun 2010 ke Pare Kediri sebagai pilihan personal development ini akan dituangkan sebagai kisah perjalanan pribadi dan referensi bagi yang membutuhkannya. Selamat datang di Pare dan Kampung Bahasa. Selamat datang para pembelajar.