Retreat untuk sebuah pekerjaan yang hebat

Satu-satunya cara untuk menghasilkan pekerjaan paling hebat di dalam hidup Anda adalah menyukai apa yang anda lakukan terlebih dahulu. Aku sekarang sedang tidak terlalu menyukai apa yang aku lakukan karena beban-beban yang bertumpuk-tumpuk, tenggat waktu yang harus dikejar, keinginan akan kesempurnaan proses dan hasil yang ingin dicapai. Ketika itu mencapai titik kepenatan seharusnya memang berhenti sejenak untuk bernafas dan merasakan apa yang harus dilanjutkan kembali. Seperti tempat sampah yang penuh, maka tempat sampah harus dibersihkan, kalau itu file drive maka perlu defragmenter.

Delete sampah

Kwawi Manokwari _lompat indah sepulang sekolah

Di daerah Kwawi ada sebuah dermaga tempat lalu lintas manusia dari darata manokwari ke pulau mansinam atau pulau lemon. Di dermaga kayu tersebut, dalam suatu kesempatan di hari sabtu, penuh dengan anak-anak melakukan kegiatan lompat indah. Riang gembira, aktif, atraktif dan komunikatif. Anak-anak ini adalah anugerah alam, dimana sejak kecil belajar berenang dan menyelam untuk kehidupan.

-Meditasi

Pengalaman pertama kali mengikuti retreat meditasi terasa lelah, menyakitkan, gamang namun juga “fresh”. Secara fisik, berlatih meditasi formal duduk diam, dengan tulang punggung diluruskan, kaki bersila ditumpangkan tubuh melemas merupakan siksaan.  Secara fikiran, semua berloncatan, berlarian, menghilang dan dicari tidak ketemu, atau hanyut menjadi lamunan. Secara reaksi batin, sumbatan emosi mengalir tersendat-sendat, bingung mencari jalan keluarnya.  Mengerti kata sadar atau menyadari reaksi batin tidak lah mudah menemukan makna. Semua kelelahan itu menimbulkan reaksi fisik, ngilu, pundak pegal, bahu seperti ada sumbatan batu, pinggang sakit, vertigo, mual, sendawa tidak ada habisnya dan rasa sakit kepala. serangan tidak datang bersamaan namun satu demi satu dan akhirnya bertumpuk. Sekarang, meditasi belum terlihat banyak manfaatnya untuk menghilangkan kenangan, mengusir bimbang, dan memunculkan reaksi sadar dalam bertindak. Yang bisa kulakukan dari meditasi ini barulah sebatas mengamati pikiran-pikiran dan reaksi batin. Reaksi batin makin lama makin melemah untuk objek-objek tertentu. Kurasa itu pertanda bagus.

 

Kala Sakit Dahulu : Tersenyum dan Kontak Tubuh

Ada pengalaman dirawat inap dirumah sakit kira-kira 10 bulan yang lalu. Saat itu saya masuk opname karena akan menjalani operasi Laparatomy usus buntu dan batu empedu sekaligus. Sejak  masuk ruang persiapan rawat inap sampai dengan di bangsal, suster-suster yang merawat saya setiap kali selalu menyentuh tangan saya. Pergelangan dan telapak tangan. Terutama saat akan menyuntikkan jarum infuse, mencari pembuluh darah  selalu suster-suster tersebut memegang tangan saya dengan lembut. Selesai dengan urusan suntik menyuntik, ternyata saat wawancara untuk persiapan operasi, suster juga tetap memegang tangan saya sambil saya diwawancara. Saat itu yang saya ingat adalah tangan para suster ini lembut dan ada yang dingin sejuk atau ada yang hangat. Seolah saya diterima dengan terbuka di bangsal-bangsal itu dan tetap diperlakukan dengan baik entah saya dirawat di ruang EMC yagn supermahal, kelas 1 yang mahal, kelas 3 yang paling murah dan akhirnya kelas 2 yang lebih nyaman.

Kesan sentuhan itu selalu saya ingat, terekam dengan baik dalam memori.  Ternyata budaya menyentuh sebuah bagian dari budaya kontak tubuh itu memberikan persepsi  kenyamanan. Namun juga jangan salah, persepsi  tesebut akan berbeda karena perbedaan budaya. Ada suatu pengamatan yang dilakukan oleh Jourard (1966) yang melakukan survey tentang siapa yang disentuh dan dimana. Ia mengobservasi pasangan-pasangan yang terlibat dalam percakapan di kedai kopi di San Juan (Puerto Rico), London dan Paris. Ia menghitung jumlah seseorang menyentuh orang lain dalam waktu satu jam. Hasilnya adalah San Juan 180, Paris 110 dan London 0. Orang-orang Inggris cenderung menghindarkan diri dari sentuhan yang  berlebihan. Pengamatan Jourard ini saya kutip dari Psikologi Kesehatan Neil Niven.

Ternyata kebiasaan para suster tersebut, merupakan keterampilan yang dilatihkan dan dilaksanakan oleh mereka dalam asuhan keperawatannya. Saya membacara bahwa suster-suster di Inggris juga memiliki perilaku menghindari kontak tubuh karena sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya mereka. Sentuhan ternyata memberikan sugesti kenyamanan bagi pasien wanita, namun bagi pasien pria mungkin bisa dianggap sebagai ancaman karena kita lebih sering mendengar asosiasi perawat bagi pasien pria adalah “suster yang galak”.

Demikian juga dengan senyuman, suster yang mengajak pasiennya tersenyum dengan senyuman mereka, dengan suara mereka atau dengan sentuhan pasien lebih baik. Itu saya alami sendiri waktu dirawat di ruang kelas 3, ruang rawatan paling murah di RS waktu itu. Disana suster tetap tersenyum dan responsive itu yang menyebabkan saya mengacungkan jempol. Saya berhutang nyawa tidak hanya kepada dokter namun juga kepada para suster yang merawat saya. Disana suster tidak pernah cemberut. Bahkan saya ingat ekspresi-ekspresi suster tertentu yang ceria, komik, lembut dan sigap perhatian. Saat itu, pasca operasi saya harus mesterilkan perut saya dengan berpuasa lima hari tanpa makan dan minum. Tubuh saya hanya digelontor cairan intravena yang menyebabkan saya dehidrasi dan demam tinggi. AC berapapun suhunya tidak menyingkirkan panas pada tubuh saya. Pergelangan kiri dan kanan sudah habis biru lebam untuk bergantian disuntik jarum infus. IntravenaBila bukan mereka para suster yang “positif attitude and behavior” menderita lah saya lahir dan batin waktu itu. Saya mengenang mereka, berhutang pada waktu-waktu ketidak sadaran saya saat itu.

Dedicated to Sster  Yekti dan teman2nya di RS Panti Rapih Jogjakarta.

Kupang-Manokwari-Kupang Kali Pertama

Perjalanan diantara awan berarak bergumpal seperti kapas, kegelapan langit, terang semburat matahari saat terbit, terang terik saat matahari meninggi, ketinggian sekian puluh ribu feed, melintasi 3 wilayah waktu dan itu tetaplah Indonesiaku. Perjalanan itu adalah perjalanan dari Kupang ke Manokwari. Perjalanan dari Bandari El Tari Kupang( WITA) – Surabaya (WIB) – Makasar (WITA) – Sorong (WIT) dan berakhir di  Manokwari (WIT). Berangkat jam 18.20 WITA dan berakhir di jam 12.30 (WIT). Begitu mendarat aku bergumam “Luar biasa ya Allah…terima kasih nikmat perjalanan ini” Hal yang sama berulang saat pulangnya, aku melintas lagi langit saat masih gelap yaitu jam 4 pagi WIT lepas hotel, dan lepas landas jam 05.30 WIT bandara Rendani Manokwari melintasi Ambon (WIT) beranjak ganti pesawat dan mendarat di Makassar (WITA), menunggu di Surabaya (WIB) dan berakhir sudah di EL Tari Kupang (WITA) pada jam 14.30. Sekali lagi aku berucap “Alhamdulillah ya Allah, aku melintasi ruang waktumu dengan sehat selamat dan on time!”. Tengah- barat- tengah-timur lalu timur – tengah – barat dan tengah. Lalu lintasku di udara menurutku sangat luar biasa dan kuyakini sebagai rasa syukur. Aku bersyukur sepenuh hati atas pengalaman ini. Tidak kusangkal segala nikmatNYa.

Perjalanan yang panjang pada waktu yang tidak ideal karena harus turun naik pesawat dalam keadaan terkantuk saat dini hari, saat tubuh melelah, saat ekspresi tidak lagi menipu, dan akhirnya topeng manusia terangkat menjadi diri sendiri yang lelah. Tertidur di hamparan kursi-kursi panjang dengan jejak-jejak kopi. Terhuyung kaget saat mendengar ada refreshment, terbangun sesaat dari kesadaran waktu karena sadar ada orang asing tiba-tiba duduk didepan kita. Tersadar saat subuh di perbedaan waktu sebagai berkat sebagai orang beriman, menelusuri selasar di bandara mencari Mushola. Aha! Sejuk hati mengintip ada yang mulai berjamaah. Segar muka ini ketika wudlu membasuh jiwa dan raga.

Refleksi batin ini makin kaya dengan mengamati orang-orang dalam perjalanan ini. Ada eksekutif BUMN sepertinya sedang melintasi waktu yang sama, seorang jamaah haji dengan baju terusan putih dan tas tenteng haji lengkap dengan sorbannya. Ada pengelana turis dengan ransel-ranselnya asyik bercakap, ada pekerja lapangan lengkap dengan sepatu bots, ada bapak-bapak dosen atau pejabat pemerintahan yang habis mengikuti bimbingan teknis akhir tahun. Lalu tak tertinggal ada anak sekolah asli sorong yang akan berlibur. Bau-bau busuk mulut ikut menguar saat masuk pesawat.

Disaat termangun-mangu, disaat terpaku, tiba-tiba mata selalu menangkap moment tak terlupakan. Ternyata pesawat meninggalkan Sorong yang penuh kepadatan bangunan dan mengepak jauh untuk memasuki Manokwari. Satu sudut pandangan penuh berkah, pesawat akan memasuki landasan dengan memutari lautan terlebih dahulu. Bandara Rendani Manokwari ternyata ujung landasannya  adalah lautan!!!. Indah!! Sungguh indah dan menakjubkan dari udara. Ini salah satu yang ingin kubagi.

Bandara Rendani Manokwari 4 Des 2011

 

Biji Asam, Iwi, Jagung, HPS 2011 dan NTT

Pernahkah makan biji asam? Terbayang lah biji asam adalah biji berwarna cokelat dan keras bila digigit oleh gigi geligi kita. Adakah orang yang mengkonsumsinya untuk makan sehari-hari ? Ini dia ada sebuah tradisi makan yang unik tapi menandai  musim-musim dimana ketahanan pangan kita terancam karena kekeringan, kegagalan panen dan perubahan musim.

Ada masyarakat di kawasan Kabupaten Timur Tengah Selatan tepatnya di desa Noinoni Kelurahan Oenino, yang biasa mengolah biji asam sebagai makanan sehari-hari saat musim kesulitan pangan terjadi. Biji asam dikumpulkan dari buah asam yang jatuh ketanah, daging asamnya yang telah dipisahkan dari biji akan dijual dan bijinya akan digoreng dengan sayuran atau digoreng begitu saja untuk dimakan. Tidak tahu seberapa banyak porsi makan biji asam, namun dalam beberapa pemberitaan berkaitan dengan rawan pangan, di kawasan Timur Tengah Utara – TTU dan Timur Tengah Selatan-TTS, masyarakat yang mulai makan biji asam untuk makan sehari-hari menandai gentingnya situasi pangan di masyarakat.

Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2011 lalu, menjadi sebuah peringatan tentang komitmen ketahanan pangan disemua Negara-negara didunia dan di Indonesia sebagai salah satu Negara yang memperingatinya untuk kali ke 31 ini, HPS ditujukan mempromosikan makanan non beras. Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam siaran di TV dan pemberitaan di media cetak Koran NTT berkali-kali menghimbau, ketahanan pangan masyarakat NTT harus terus dipertahankan dengan cara bangga berbudidaya dan mengkonsumsi makanan-makanan pengganti beras seperti jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan.Di beberapa wilayah di NTT masyarakat sebenarnya sudah memiliki tradisi konsumsi makanan pengganti beras yang juga unggul secara nutrisi namun hal tersebut tidak dipahami secara luas oleh masyarakat NTT.

Selain biji asam, ada sejenis ubi-ubi hutan yang disebut Iwi biasa dikonsumsi saat musim rawan pangan terjadi. Juga ditemukan konsumsi Arbila Hutan, sejenis buncis beracun yang direbus sebanyak 12 kali untuk menghilangkan racunnya sebelum dimakan. Makanan-makanan yang tumbuh alamiah tanpa di tanam oleh manusia secara sengaja ini sebenarnya sudah membantu ketahanan konsumsi harian masyarakat dimasa sulit. Meski begitu, jenis tanaman pangan non beras yang memiliki kandungan karbohidrat dan protein nabati yang cukup tinggi yang biasa ditanam masyarakat NTT seharusnya tidak hilang dari tradisi tanam.

Tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi jagung, ubi dan labu sebagai pengganti beras, karena nilai kandungan karbohidratnya tidak kalah jauh dengan beras. Tidak ada yang salah dengan tidak makan nasi. Ah! Benar! Tidak ada yang salah dengan tidak makan nasi, karbohidrat sebenarnya ada di jenis-jenis tanaman yang ditanam oleh masyarakat di NTT yaitu jagung, ubi dan labu serta segala jenis kacang-kacangannya. Jagung bahkan bisa bertahan 2 tahun bila diasapi di rumah bulat, menurut sumber-sumber di desa saat country survey Mei Juni 2010 lalu. Jadi seharusnya ketahanan pangan masyarkat NTT bisa terus terjaga. Lain soal bila ketahanan pangan diukur dengan konsumsi padi.

Setahun lalu ada pengalaman mengesankan makan jagung bose di Lil’ana TTS, jagung tumbuk direbus dengan sayur-sayuran dimakan dengan sambal dan dibubuhi garam. Enak karena pertama kali memakannya. Mungkin terasa membosankan bagi masyarakat karena tradisi memasak sangat sederhana menyebabkan anak dan orang dewasa menjadi bosan memakannya atau tidak antusias. Seandainya mereka mengenal cara-cara mengolah makanan dari jagung, ubi dan labu tanpa harus membubuhinya dengan bumbu-bumbu yang mahal, mungkin mereka akan bangga dan antusias memakannya. Kekurangan pengalaman mengolah makanan lah sebagai salah satu penyebab pola asuh makanan di keluarga-keluarga menjadi rendah.

–catatan yang mungkin agak membingungkan J—