Prinsip penting ketika membuat pelatihan dengan anak-anak

Prinsip dasar yang harus terpenuhi dalam merancang kegiatan dengan anak-anak adalah kegiatan tersebut membuat anak-anak aktif, terlibat, senang dan sesuai dengan tahapan usia mereka.  Anak-anak sebaiknya menikmati kegiatan pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan mereka tentang pengetahuan dan keterampilan.  Contohlah pelatihan anak-anak untuk menjadikan mereka sebagai pendidik sebaya dalam menyampaikan informasi kesehatan.

Modul pelatihan sebaiknya menggunakan metode active yang menyenangkan supaya pengetahuan baru dan tugas baru untuk mereka bisa dipahami oleh anak.  Kombinasi metode dalam pelatihan gabungan antara metode penyajian materi, mengungkapkan pendapat, simulasi dan role play sebaiknya dilakukan secara seimbang untuk mereka. Bagaimana menerapkan metode tersebut dan membuat komposisi metode  serta materi sesuai dengan kemampuan anak dan kebutuhan program mesti memperhatikan tahap perkembangan usia mereka.

Menurut Piaget, anak usia sekolah dasar itu berada dalam rentang usia 7-11 tahun dan 11 tahun keatas. Usia 7-11 tahun berarti anak pada tahap operasional konkrit sedangkan diatas usia 11 tahun anak memasuki tahap perkembangan operasional formal.

Tahap operasional konkrit akan ditandai dengan kemampuan anak untuk segera paham tentang hal-hal yang bersifat logis dan matematis. Misalnya pengurutan angka, beda besar kecil angka, pengurutan benda, pengklasifikasian benda, dst.  Secara emosi pada tahap ini anak mampu melihat dalam sudut pandang orang lain.

Tahap operasional formal, biasanya ditandai dengan berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Secara emosi, anak-anak mulai memasuki masa pubertas, sehingga anak seringkali malu bila kegiatan dilakukan antara laki-laki dan perempuan secara bersama-sama. Anak-anak kemudian suka saling mengolok karena perbedaan jenis kelamin mereka.

Berdasarkan tahap tersebut maka pelatihan untuk anak dirancang untuk

▪        bagaimana mengklasifikasikan masalah yang mereka temukan,

▪        bagaimana mereka menilai masalah tersebut dalam sudut pandang kelompok mereka,

▪        membuat anak bisa membedakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,

▪        bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama anggota kelompok tanpa malu,

▪        memperhatikan kesetaraan dalam pembagian tugas,

▪        membangun komitmen untuk merasa bertanggung jawab satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s