Memahami Jenis Penyakit Geriatri – Dysthymia#2

“Kalau lembagamu punya pekerjaan untuk orang-orang tua, please i will ready to fill the position. Jarang ada pekerjaan-pekerjaan ditingkat operasional untuk orang seperti seusia saya, sekarang saya 65 tahun”

Saya ingat dengan suatu percakapan dengan salah seorang kolega dari lembaga donor yang mendanai kegiatan lembaga saya. Pada saat beliau berkunjung untuk mengucapkan perpisahan, beliau mengatakan hal tersebut. Meski ada nada yang getir tapi saya percaya beliau masih memiliki sekian persen dari keinginan mengisi hidupnya dengan kegiatan yang positif.

Lalu bagaimana dengan orang tua kita? Bagi siapa saja yang dulunya orang tuanya adalah pekerja, mungkin kita akan mendengar rerasan bahwa mereka tidak dibutuhkan lagi karena sudah tua. Ungkapan itu mungkin terdengar sepele dan kita bisa saja menganggapnya biasa saja. Sebagai seorang anak, sebaiknya kita mencermatinya sebagai ungkapan ketidakbahagiaan dimana ungkapan tersebut sebenarnya akan memiliki hubungan yang erat antara pikiran dan tubuhnya.

Cobalah lebih dipahami lagi, apabila orang tua kita lebih sering mengungkapkan ketidakpuasannya akan kehidupannya, maka itu sudah menjadi alasan ketidakbahgiaan.  Pahami beliau apakah sudah memperoleh mencapai hidup sesuai tujuan belum? Lalu apakah beliau telah memiliki semua yang diinginkannya namun masih mengeluh? Bila kedua pertanyaan tersebut ternyata terjawab dengan ‘ya’, maka agaknya beliau ini orang yang yang tidak puas dengan hidup

Dalam geriatri, yaitu penyakit untuk orang usia lanjut, ada istilah dysthymia, yaitu suatu depresi pada orang yang merasa tidak bahagia atau tidak puas dengan kehidupan. Depresi ini sangat tidak kentara dibandingkan depresi biasa (rasa sedih yang berlebihan, merana, tidak berharga, rasa bersalah). Dysthymia bisa dibilang tidak berbahaya (tidak mengancam orang lain) namun bisa berlangsung lama karena sulit dikenali. Meski begitu depresi seperti ini bisa menimbulkan resiko penyakit dan kematian karena bunuh diri. Seram juga kalau menuliskan kalimat terakhir ini.

Jadi kenali orang tua kita, orang lanjut usia sekitar kita, berempatilah dengan mereka dengan secara rutin membantunya menjadi teman bicara untuk membuat mereka lebih positif memandang kehidupan. Syukur-syukur kita bisa terlibat langsung dalam mempengaruhi pola hidup mereka sehari-hari seperti menemani jalan-jalan untuk olah raga, membuat menu yang tinggi serat seperti buah dan sayur (jenis makanan ini bisa mempengaruhi mood), menemani silaturahmi atau sekedar menjadi teman bicara untuk menemukan hal-hal positif yang mungkin telah dilakukan dimasa lalu.

Sudahkan kita melakukannya untuk orang tua kita sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s