Lebaran di Payaman

Payaman adalah desa di utara magelang.  Disini setiap lebaran ada hal-hal “biasa” yang berlangsung dari tahun ketahun, setidaknya dalam 36 tahun usia ini setiap lebaran selalu ada peristiwa yang berulang. Selalu dimungkinkan perbedaan waktu shalat ied dan itu akan terasa sangat menyolok berhubung ada segolongan orang shalat di masjid dan yang lain di lapangan. Ada sejarah relasi NU versus Muhammadiyah. Karena Muhammdiyah minoritas maka lebaran akan sangat berbeda kalau NU merayakan lebaran lebih belakangan karena itu berarti kita tidak bisa “ujung” pada hari yang sama. Ada semacam emosi perbedaan yang canggung ketika hari lebaran itu berbeda.

Shalat ied di tanah lapang, selalu menunjukkan dinamika keluarga. kita akan mengamati siapa yang datang, siapa yang sudah punya anak,siapa yang datang dalam keadaan hamil, siapa yang datang kali ini dan tidak pada lebaran tahun kemarin dsb. Shalat ied menjadi saat penuh penantian pertemuan antara sahabat masa kecil, tentangga yang tidak pernah ketemu dan selalu ada saat mengharukan pada pertemuan tersebut.

Kemudian ada tradisi ujung yaitu tradisi mendatangi keluarga demi keluarga dalam satu desa. Tidak ada tradisi makan besar yang ada adalah bersalaman dalam bentuk kelompok besar atau kelompok kecil, atau berpasangan atau perseorangan. Biasanya ada tradisi saat bersalaman sedikit bersimpuh. Kalau kita mendatangi keluarga Kyai/Nyai maka yang bukan muhrim akan sekedar bersimpuh tanpa berjabat tangan. Namun bila tidak biasanya kita akan berjabat tangan. Bersimpuh atau tidak juga kadang menunjukkan tradisi dan hirarki atau sekedar perasaan kesetaraan. Pada saat bersimpuh atau bersalaman maka akan muncul kalimat ucapan selamat hari raya, mohon maaf lalu diseling doa supaya sehat, supaya segera mendapat jodoh, supaya dilapang rejeki atau supaya lancar sekolah. Atau berbakti pada orang tua.

Selanjutnya kita akan dipersilahkan makan kue kering dan minum setrup/minuman sirup. Setrup adalah bahasa lokal payaman untuk menyebut minuman sirup. Dulu setrup dibuat sendiri tapi sekarang Setrup sudah diganti ABC, Marjan, dsb. Kalau tidak mau makan kecil maka kita bisa segera permisi dan biasanya semua orang memang mentargetkan untukberkeliling satu kampung dalam satu hari. Jadi hari pertama lebaran memang sangat melelahkan buat stamina kaki dan perut kembung berisi setrup.

Tradisi lain adalah pada hari pertama selalu ada balon raksasa buatan lokal yang diterbangkan pada shalat ied.Biasaya balon itu dibuat oleh para santri atau pemuda di daerah Kauman. Kita akan melihat balon itu terbang pada saat mendengar khatib membacakan khotbah ied. Terbang tinggi dan terbakar diudara.

Bunyi petasan sekarang sudah sangat berkurang meski sesekali terdengar di udara. Dulu kira-kira 10 tahun lalu kita masih mendengar bunyi petasan yang mengerikan dan menggoyang kaca rumah. Pesatasan tersebut biasanya dirakit sendiri dan dibunyikan pada saat takbiran di sudut tertentu yang sudah ditandai sebagai wilayah kekuasaan kelompok tertentu. Menakutkan tapi akhirnya ketika itu hilang maka ada juga yang hilang dari kebiasaan lebaran di Payaman.

Begitulah lebaran di Payaman…itu yang saat ini terekam dan sepertinya tidak banyak perubahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s