Waktu yang telah lewat

Apabila menghitung waktu-waktu yang berlalu begitu cepat diakhir tahun 2008 dan kemudian mengingat apa saja yang dijalani selama kurun waktu itu, aku bersyukur, aku ternyata tetap sehat dengan semua tekanan waktu itu. Justru menurutku aku jadi sehat dengan situasi kemarin karena interaksi dengan teman-teman di kantor menyebabkan kekebalan tubuh jadi meningkat. Alih-alih mengatakan bahwa stress karena berurusan dengan emosi-emisi manusia bisa menimbulkan penyakit, maka kondisiku justru sebaliknya. Interaksi emosi itu menyehatkan dan justru ketika terkena tekanan harus membuat program design framework justru malah membuatku sakit kepala dan menderita karena PMS.

Apa yang disebut situasi yang berat saat itu adalah ketika semuanya dimulai dari informasi tentang pemindahan kantor babaran 71 ke kantor yang lebih kecil. Informasi inilah merupakan multiple efek dari semua kegiatan yang melelahkan namun sarat akan pembelajaran. Tidak sesederhana yang dibayangkan bahwa berpindah kantor lebih kecil itu bukan hanya persoalan teknis tapi juga emosional karena menyangkut nasib hidup banyak orang. Berpindah kantor berarti terjadi proses terminate terhadap beberapa staff karena kriteria kantor yang baru adalah gedung perkantoran, ruang yang lebih kecil dan service kebersihan/keamanan. Dialog dengan management tentang sewa rumah babaran yang murah, potensi teman-teman dalam bekerja, sampai dengan itungan sosial economic cost dengan management jakarta akhirnya berujung satu kata. Kami harus pindah kekantor kecil.

Selanjutnya dimulailah dengan dialog tentang hak dan kewajiban antara karyawan dan lembaga juga mulai dibicarakan, proses notification letter sebelum 30 hari, uang pesangon dan uang jasa, serta clearence cheklist. Diantara padatnya pekerjaan mulai shorting file, inventarisasi aset kantor, identifikasi penerima donasi barang, urusan pemutusan hubungan telepon, penurunan daya, perbaikan rumah sewa ke pemiliknya, juga terselip situasi tidak nyaman dari karyawan sendiri. Ada yang autis dengan dinamika pekerjaan sendiri, ada yang merasa dicurangi lembaga, ada yang kecewa dengan management. Pokoknya banyak persoalan emosional yang timbul karens situasi tersebut. Namun semua itu perlu ditelan dan sabar bahkan kalau perlu mengulur urat nadi emosi. Karena diantara situasi tersebut, masih ada semangat dan tanggung jawab menyelesaikan tugas masing-masing dari beberapa staff. Masih ada profesionalisme dan niat baik. Disinilah akhirnya terlihat kualitas individu dan tim yang baru saja diporakporandakan oleh situasi yang selalu serba mendadak.

Sebagai manusia pembelajar, kami mulai menata diri apa yang sebaik kita kelola untuk ruang pekerjaan di tempat baru, bagaimana atmosfir kembali di bangun, bagaimana kami memulihkan diri dari keterkejutan demi keterkejutan karena keputusan-keputusan management. Tidak ada yang lebih membanggakan bagi ku selain aku beruntung bekerja dengan teman-teman yang profesional, yang memiliki itikad baik, saling percaya dan terhormat. Kami jadi belajar menghadapi situasi penuh kejutan tanpa harus menjadi terluka karenanya. Mudah-mudahan tahun 2009 ada nasib baik untuk kami semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s