Suatu hari ketika menguping….


Pagi hari ketika saya cuti sakit, saya mencuci alat makan setelah sarapan pagi, saya lihat ada koran baru di meja kosan. Tergerak membuka-buka lembaran koran untuk tahu apa isinya hari itu. Ketika sedang asyik, tiba-tiba ada suara nyanyian Danang, anak ibu kos, yang tidak beraturan. Lalu dia muncul di ruang makan, sepertinya dia kaget dan kagok karena ada saya disana. Terbukti melakukan gerakan orang canggung mau ngapain dan lanjut ke dapur. Tidak lama kemudian telepon kos berdering. Saya diam saja dan setelah 5 deringan, Danang mengangkat telepon,

Danang : halo

Penelepon : —–

Danang : mau bicara dengan siapa?

Penelepon : —

Danang : tunggu sebentar. Ibuuuu…!!!! telepon!!!!

Ibu : ya..dari siapa? (ibunya sedang menyetrika di kamar atas)

Danang : nggak tahu…

Tidak lama kemudian ibunya datang dan menyambut telepon diatas meja yang sudah ditinggalkan Danang. Setelah beberapa detik pembicaraan antara ibunya Danang dan penelepon, ada dialog santun karena rupanya ibunya mengenal baik si penelepon dan terlibat pembicaraan dalam bahasa jawa yang santun.

Yang menjadikan saya menganggap peristiwa tersebut penting adalah persoalan etika menerima telepon oleh Danang. Sebagai remaja baru, anak kelas 6 SD yang tinggal dan bersekolah diperkotaan yang tidak gagap terhadap teknologi dan berkomunikasi dengan orang lain, ternyata masih gagap bertindak santun dalam menerima telepon. Ucapan salam yang menyertai “halo” seperti “selamat pagi”, konfirmasi penelepon siapa? Ingin berbicara dengan siapa? Ternyata tidak menyertai selama proses menerima telepon. Apakah hal itu salah atau benar, namun beretika dalam menerima telepon sebenarnya menunjukkan keterbiasaan kita akan pola pendidikan orang tua terhadap tamu. Entah itu tamu virtual, audio atau tamu yang sebenarnya.

Kesantunan menjadi penting bagi Danang, karena dia tinggal di kos yang berpenghuni 24 orang perempuan, dimana tamu siapa saja juga bisa hadir. Para tamu ini kadang bertemu tatap muka atau bertukar suara dengan Danang, namun anak baru gede ini ternyata tidak didik oleh ibu dan bapaknya untuk menerima tamu di rumah itu dengan santun.

Mengobservasi kesantuanan orang lain, kadangkala seperti menelisik pribadi orang lain, ingin tahu, dan seperti orang kurang pekerjaan, tapi saya beranggapan sebaliknya. Mengobservasi kesantuan orang lain, ternyata bagian penting dari agama itu sendiri. Seorang anak yang didik santun oleh bapak ibunya, maka dia memiliki nilai kesantunan kepada orang tuanya. Selanjutnya nilai tersebut akan dibawa sampai kapanpun dan bahkan lebih jauh sangat mempengaruhi peradaban akan kehidupan itu sendiri. Danang yang masih kelas 6 SD ini suatu saat akan hidup lebih panjang dari yang dia perkirakan, dan dia akan bersimpul hidup dengan banyak kehidupan dimasa akan datang. Kesantunan akan menjadi modal bagi dia membangun jaring hidupnya sendiri dan kesantunan juga amat disukai oleh Tuhan, Pemberi Kehidupan bagi Umat Manusia.

Saya lalu berniat, lain kali kalau saya ada kesempatan menguping danang saat menerima telepon, saya akan mengajaknya berkomunikasi..mudah-mudahan masih ada kesempatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s