Pare Kediri : High Cost Kosan

“Kampung Bahasa “ Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri  merupakan daya tarik kota kecamatan Pare. Puluhan tempat kursus bahasa Inggris telah menghidupkan perekonomian masyarakat di desa ini seperti usaha makanan/minuman, usaha warung kelontong perlengkapan hidup sehari-hari, usaha warnet, toko alat tulis/komputer, usaha penyewaaan sepeda, usaha info kos-kosan, usaha jual pulsa, usaha bengkel perbaikan sepeda, dan usaha penyewaan kamar kosan itu sendiri. Kafe pun juga ada di Kampung Bahasa ini. Dari semua bentuk usaha tersebut yang menjadi keunikan adalah usaha penyewaan sepeda dan usaha persewaan kamar kost. Kampung bahasa tidak akan lepas dari kedua usaha ini karena seluruh peserta kursus membutuhkan tempat tinggal dan alat transportasi murah yang bisa membawanya bermobilisasi dari satu tempat kursus ke tempat kursus lain.

High cost kosan adalah ungkapan saya menilik harga sewa kamar di desa Tulungrejo. Ini  karena cara memberikan nominalisasi kepada penyewanya yang tidak terstandarisasi dan berkesan tidak adil alias sangat mencari keuntungan atau aji mumpung. Hampir semua atau katakanlah semua kos-kosan di huni lebih dari satu orang, yaitu berkisar 2 orang perkamar sampai 6 orang perkamar. Namun rata-rata adalah 3- 4 orang per kamar. Harga sewa kamar dihitung per orang. Misalnya satu orang membayar Rp 75.000 – Rp 200.000 untuk tinggal selama satu bulan, apabila kamar tersebut untuk 2 orang orang maka tinggal dikalikan nominalisasi harga per orangnya. Jadi kisaran satu kamar harganya adalah Rp 300.000 – Rp 800.000. apabila ingin menghuni sendirian, tentunya harganya akan menjadi sangat mahal. Untuk kamar seharga Rp 150.000 – Rp 200.000 per orang biasanya dihuni 2- 4 orang. Apabila penyewa membawa komputer/laptop juga dikenakan tambahan harga sekitar Rp. 15.000 – Rp. 30.0000. Selain persoalan harga per orang, sisi high cost juga dikenakan pada durasi waktu. Bagi penyewa 2 minggu, biaya sewa kos ada yang dihitung sebulan namun ada juga yang diberikan pengurangan harga sekitar 40%.

Sebagai narasi, saat ini saya tinggal di kosan di Jalan Kemuning, dengan kamar seharga Rp 200.000 dengan biaya tambahan laptop sebesar Rp 25.000 untuk tinggal sebulan. Saya tinggal sekamar dengan 1 orang lainnya. Sungguh suatu kebetulan saja kami tinggal berdua di kamar tersebut karena kondisi tubuh kami yang big size untuk dijejali 3 orang seperti kamar lain. Jadilah pemilik kamar mengantongi Rp  450.000 untuk kamar kami selama sebulan. Tempat kosan saya terdiri dari 5 kamar, dimana 2 kamar bisa dihuni 3-4 kamar, 2 kamar untuk dihuni satu orang dan 1 kamar untuk 2 orang. Total penghuni kamar bisa terisi penuh adalah 15 orang. Untuk 5 kamar berkapasitas 15 orang, hanya disediakan satu kamar mandi. Fasilitas kos yang saya sewa kamarnya berventilasi sangat baik ada 4 jendela dari 2 sisi (barat dan timur), lantai keramik, tempat tidur spring bed dan bukan kasus spon atau kasur kapuk, sprei pengganti, tempat cuci baju, gudang kecil untuk menaruh koper, dapur dengan kompor gas ( gasnya urunan dengan warga kos lain bila habis), perlengkapan makan dan perlengkapan mencuci. Menilik fasilitas seperti ini, maka harga Rp 200.000,00 menjadi sangat wajar pada pertama kali kita datang menengok tempat ini dan meninggalinya sebelum kenyataan lain yang menggangu datang belakangan.

Di kosan kami, rasa ketidaksenangan atau ketidaknyamanan atau perasaan tidak adil akan muncul saat-saat :

  • pemilik mulai membatasi pemakaian air dengan berbagai alasan,
  • penyewa disuruh pindah ke kamar lain (ini biasanya memaksa) karena kamarnya akan dihuni penghuni baru,
  • barang-barang penyewa dipindah ke kamar lain tanpa meminta ijin karena penyewa sedang tidak di kosan misalnya sedang pulang mudik,
  • harga penyewa dengan membawa laptop dan tidak kadang tidak berbeda,
  • harga penyewa 2 mingguan kadang dikenakan  satu bulan di penyewa satu dan 2 minggu untuk penyewa lainnya.

Sebagai penyewa kadang posisi tawar menjadi rendah, karena alternatif tempat kosan yang memadai sangat terbatas. Sebagai pembanding, dengan harga yang kurang lebih berkisar 125.000 – 175.000 per orang, ada satu kosan di jalan Anggrek, untuk bangunan yang masih baru dan terlihat nyaman diluar, ternyata didalamnya kamar-kamar tersebut berkesan suram dengan kamar mandi masih bersifat emergency alias pembatas kamar mandi menggunakan terpal plastik. Melihat kamar mandinya mengingatkan saya pada bangunan WC dan kamar mandi emergency untuk pengungsi di Merapi dan gempa bumi Jogjakarta. Satu kosan yang baik ada  di jalan Brawijaya dengan kamar seharga Rp 150.000 per orang di huni 2 orang per kamarnya. Bangunan kosan permanen dan disediakan fasilitas seperti kosan saya tadi yang membedakan untuk 7 kamar berkapasitas 14 orang disediakan 3 kamar mandi.

Alternatif tinggal di Desa Tulungrejo, Kampung Bahasa ini, selain kamar kosan adalah tinggal di Camp yang di kelola kursus. Rata-rata harga berkisar Rp 150.000  – Rp 350.000 sebulan. Biaya ini selain biaya tinggal namun juga disertai biaya program. Satu kamar akan dihuni antara 4 – 8 orang. Apabila tinggal di camp, ada satu keuntungan yaitu kemampuan komunikasi berbahasa Inggris akan meningkat karena salah syarat tinggal di camp adalah kewajiban berkomunikasi dalam bahasa Inggris dalam semua kesempatan.

Bagi pasangan suami istri, akan sedikit kesulitan mencari sewa kamar untuk pasutri karena mungkin kebutuhan sewa kamar untuk pasangan memang jarang muncul. Satu pengalaman pribadi ketika mencari kosan untuk pasutri sungguh tidak mudah. Apabila ada sebenarnya kamar atau paviliun tersebut untuk anak laki-laki. Fasilitas yang ditawarkan juga cukup minim dimana kamar mandi diluar dan air dipompa menggunakan tangan. Fasilitas listrik juga tersedia pada jam 17.00 sampai dengan jam 6 pagi saja. Pada pagi dan jelang sore, listrik dimatikan karena digunakan untuk kepentingan industri rumah tangga.

Nah, begitulah salah satu kenyataan gambaran tinggal di desa Tulungrejo Kampung Bahasa, Pare Kediri. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan, hanya sebagai alert supaya tidak terkaget-kaget ketika datang ke Kampung Bahasa seperti saya. Artinya ketika datang ke tempat ini untuk belajar bahasa ada hal-hal harus diantisipasi. Pada dasarnya segala kondisi yang saya ceritakan tersebut bisa menjadi pembelajaran atau katakanlah sebagai informasi tambahan tentang Kampung Bahasa ini. Saya mendeskripsikan pengalaman ini karena kebutuhan untuk datang ke Pare Kediri saat ini makin luas seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Sehingga keragamanan peserta kursus yang berasal dari berbagai kalangan menyebabkan munculnya pergeseran kebutuhan dan nilai dalam memandang persoalan tempat tinggal. Satu sisi kebiasaan tinggal komunal adalah kebiasaan dikalangan pesantren yang masih menjadi budaya di Kampung Bahasa ini sehingga bagi peserta kursus yang tidak siap dengan kebiasaan ini biasanya memilih tinggal di kosan yang sayangnya dalam beberapa hal masih menganut value tinggal komunal namun harganyanya yang sungguh selangit.

Jadi setelah membaca ini, jangan jera datang ke Pare ya!

 

2 pemikiran pada “Pare Kediri : High Cost Kosan

  1. benar sis..ak tinggal di bidadari house..untungnya nyaman dan sesuai dgn fasilitas yang diberikan..anyway..pare..unforgettable moment..:)..salam buat mr. andre..mr. rooney..mr faiz..all…

    1. setuju unforgettale moment ya Pare. Aku dulu ngekos persis depan kantor elfast.🙂 salam hangat dari Kupang, ( bukan dari mr andre, mr roney dan mr faiz ..:-)) beruntung kita pernah ke pare dan memetik manfaatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s