Biji Asam, Iwi, Jagung, HPS 2011 dan NTT

Pernahkah makan biji asam? Terbayang lah biji asam adalah biji berwarna cokelat dan keras bila digigit oleh gigi geligi kita. Adakah orang yang mengkonsumsinya untuk makan sehari-hari ? Ini dia ada sebuah tradisi makan yang unik tapi menandai  musim-musim dimana ketahanan pangan kita terancam karena kekeringan, kegagalan panen dan perubahan musim.

Ada masyarakat di kawasan Kabupaten Timur Tengah Selatan tepatnya di desa Noinoni Kelurahan Oenino, yang biasa mengolah biji asam sebagai makanan sehari-hari saat musim kesulitan pangan terjadi. Biji asam dikumpulkan dari buah asam yang jatuh ketanah, daging asamnya yang telah dipisahkan dari biji akan dijual dan bijinya akan digoreng dengan sayuran atau digoreng begitu saja untuk dimakan. Tidak tahu seberapa banyak porsi makan biji asam, namun dalam beberapa pemberitaan berkaitan dengan rawan pangan, di kawasan Timur Tengah Utara – TTU dan Timur Tengah Selatan-TTS, masyarakat yang mulai makan biji asam untuk makan sehari-hari menandai gentingnya situasi pangan di masyarakat.

Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2011 lalu, menjadi sebuah peringatan tentang komitmen ketahanan pangan disemua Negara-negara didunia dan di Indonesia sebagai salah satu Negara yang memperingatinya untuk kali ke 31 ini, HPS ditujukan mempromosikan makanan non beras. Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam siaran di TV dan pemberitaan di media cetak Koran NTT berkali-kali menghimbau, ketahanan pangan masyarakat NTT harus terus dipertahankan dengan cara bangga berbudidaya dan mengkonsumsi makanan-makanan pengganti beras seperti jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan.Di beberapa wilayah di NTT masyarakat sebenarnya sudah memiliki tradisi konsumsi makanan pengganti beras yang juga unggul secara nutrisi namun hal tersebut tidak dipahami secara luas oleh masyarakat NTT.

Selain biji asam, ada sejenis ubi-ubi hutan yang disebut Iwi biasa dikonsumsi saat musim rawan pangan terjadi. Juga ditemukan konsumsi Arbila Hutan, sejenis buncis beracun yang direbus sebanyak 12 kali untuk menghilangkan racunnya sebelum dimakan. Makanan-makanan yang tumbuh alamiah tanpa di tanam oleh manusia secara sengaja ini sebenarnya sudah membantu ketahanan konsumsi harian masyarakat dimasa sulit. Meski begitu, jenis tanaman pangan non beras yang memiliki kandungan karbohidrat dan protein nabati yang cukup tinggi yang biasa ditanam masyarakat NTT seharusnya tidak hilang dari tradisi tanam.

Tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi jagung, ubi dan labu sebagai pengganti beras, karena nilai kandungan karbohidratnya tidak kalah jauh dengan beras. Tidak ada yang salah dengan tidak makan nasi. Ah! Benar! Tidak ada yang salah dengan tidak makan nasi, karbohidrat sebenarnya ada di jenis-jenis tanaman yang ditanam oleh masyarakat di NTT yaitu jagung, ubi dan labu serta segala jenis kacang-kacangannya. Jagung bahkan bisa bertahan 2 tahun bila diasapi di rumah bulat, menurut sumber-sumber di desa saat country survey Mei Juni 2010 lalu. Jadi seharusnya ketahanan pangan masyarkat NTT bisa terus terjaga. Lain soal bila ketahanan pangan diukur dengan konsumsi padi.

Setahun lalu ada pengalaman mengesankan makan jagung bose di Lil’ana TTS, jagung tumbuk direbus dengan sayur-sayuran dimakan dengan sambal dan dibubuhi garam. Enak karena pertama kali memakannya. Mungkin terasa membosankan bagi masyarakat karena tradisi memasak sangat sederhana menyebabkan anak dan orang dewasa menjadi bosan memakannya atau tidak antusias. Seandainya mereka mengenal cara-cara mengolah makanan dari jagung, ubi dan labu tanpa harus membubuhinya dengan bumbu-bumbu yang mahal, mungkin mereka akan bangga dan antusias memakannya. Kekurangan pengalaman mengolah makanan lah sebagai salah satu penyebab pola asuh makanan di keluarga-keluarga menjadi rendah.

–catatan yang mungkin agak membingungkan J—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s