Kala Sakit Dahulu : Tersenyum dan Kontak Tubuh

Ada pengalaman dirawat inap dirumah sakit kira-kira 10 bulan yang lalu. Saat itu saya masuk opname karena akan menjalani operasi Laparatomy usus buntu dan batu empedu sekaligus. Sejak  masuk ruang persiapan rawat inap sampai dengan di bangsal, suster-suster yang merawat saya setiap kali selalu menyentuh tangan saya. Pergelangan dan telapak tangan. Terutama saat akan menyuntikkan jarum infuse, mencari pembuluh darah  selalu suster-suster tersebut memegang tangan saya dengan lembut. Selesai dengan urusan suntik menyuntik, ternyata saat wawancara untuk persiapan operasi, suster juga tetap memegang tangan saya sambil saya diwawancara. Saat itu yang saya ingat adalah tangan para suster ini lembut dan ada yang dingin sejuk atau ada yang hangat. Seolah saya diterima dengan terbuka di bangsal-bangsal itu dan tetap diperlakukan dengan baik entah saya dirawat di ruang EMC yagn supermahal, kelas 1 yang mahal, kelas 3 yang paling murah dan akhirnya kelas 2 yang lebih nyaman.

Kesan sentuhan itu selalu saya ingat, terekam dengan baik dalam memori.  Ternyata budaya menyentuh sebuah bagian dari budaya kontak tubuh itu memberikan persepsi  kenyamanan. Namun juga jangan salah, persepsi  tesebut akan berbeda karena perbedaan budaya. Ada suatu pengamatan yang dilakukan oleh Jourard (1966) yang melakukan survey tentang siapa yang disentuh dan dimana. Ia mengobservasi pasangan-pasangan yang terlibat dalam percakapan di kedai kopi di San Juan (Puerto Rico), London dan Paris. Ia menghitung jumlah seseorang menyentuh orang lain dalam waktu satu jam. Hasilnya adalah San Juan 180, Paris 110 dan London 0. Orang-orang Inggris cenderung menghindarkan diri dari sentuhan yang  berlebihan. Pengamatan Jourard ini saya kutip dari Psikologi Kesehatan Neil Niven.

Ternyata kebiasaan para suster tersebut, merupakan keterampilan yang dilatihkan dan dilaksanakan oleh mereka dalam asuhan keperawatannya. Saya membacara bahwa suster-suster di Inggris juga memiliki perilaku menghindari kontak tubuh karena sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya mereka. Sentuhan ternyata memberikan sugesti kenyamanan bagi pasien wanita, namun bagi pasien pria mungkin bisa dianggap sebagai ancaman karena kita lebih sering mendengar asosiasi perawat bagi pasien pria adalah “suster yang galak”.

Demikian juga dengan senyuman, suster yang mengajak pasiennya tersenyum dengan senyuman mereka, dengan suara mereka atau dengan sentuhan pasien lebih baik. Itu saya alami sendiri waktu dirawat di ruang kelas 3, ruang rawatan paling murah di RS waktu itu. Disana suster tetap tersenyum dan responsive itu yang menyebabkan saya mengacungkan jempol. Saya berhutang nyawa tidak hanya kepada dokter namun juga kepada para suster yang merawat saya. Disana suster tidak pernah cemberut. Bahkan saya ingat ekspresi-ekspresi suster tertentu yang ceria, komik, lembut dan sigap perhatian. Saat itu, pasca operasi saya harus mesterilkan perut saya dengan berpuasa lima hari tanpa makan dan minum. Tubuh saya hanya digelontor cairan intravena yang menyebabkan saya dehidrasi dan demam tinggi. AC berapapun suhunya tidak menyingkirkan panas pada tubuh saya. Pergelangan kiri dan kanan sudah habis biru lebam untuk bergantian disuntik jarum infus. IntravenaBila bukan mereka para suster yang “positif attitude and behavior” menderita lah saya lahir dan batin waktu itu. Saya mengenang mereka, berhutang pada waktu-waktu ketidak sadaran saya saat itu.

Dedicated to Sster  Yekti dan teman2nya di RS Panti Rapih Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s